PAPAN PANAH ATAU PIPA SALURAN

Kol 1 : 29 “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku”

 

Suatu hari di tengah waktu teduh saya, hal berikut terlintas di pikiran saya: “Janganlah hidup terjadi begitu saja pada dirimu. Biarlah hidup terjadi melalui engkau.”

Kalimat pertama menggambarkan betapa diri saya ini bagai papan panah, karena saya cenderung melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa saya. Saya merasa seperti papan panah yang kelelahan. Saya menggunakan semua tenaga saya untuk melindungi diri dari panah-panah cobaan hidup.

Namun, kalimat kedua, “Biarlah hidup terjadi melalui engkau,” memberi pendekatan yang berbeda. Bukannya menghindari panah-panah hidup yang ganas, saya justru harus mengizinkan hidup dan kasih Allah tersalur melalui saya. Dia memberkati saya agar melalui cara demikian Dia dapat memberkati orang-orang lain pula.

Pada hari itu saya memilih untuk menjadi pipa saluran Allah, bukannya menjadi papan panah. Maka saya dapat mulai hidup secara lebih efektif bagi Dia.

Kadang kala saya memang kembali menjadi papan panah, tetapi saya segera kehabisan kasih dan tenaga untuk memberkati orang lain. Lalu melalui pengakuan dosa, iman, dan ketaatan, saya menyambungkan diri kembali dengan sumber pemeliharaan surgawi dan memulai lagi hidup sebagai pipa saluran.

Pada suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyebutkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Namun, ia bersikeras menjadi saluran berkat dengan mengizinkan Allah bekerja melalui dirinya.

Bagaimana dengan Anda? Anda papan panah atau pipa saluran? Inilah tantangan dan pilihan bagi tiap orang percaya — JEY

 

ALLAH MEMBERKATI ANDA UNTUK MEMBERKATI ORANG LAIN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *