TONGKAT HARUN

Baca: Bilangan 17

Di dalam tabut perjanjian itu tersimpan botol emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang berisi perjanjian (Ibrani 9:4)

Pada 2009, seseorang dengan na­ma pena Chaos@Work menulis se­buah buku berjudul My Stupid Boss. Buku ini bercerita tentang ”kegilaan” bos si pe­nulis; dari meminta barang supplier se­cara cu­ma-cuma sampai menyalahkan anak bu­ah ketika kapal lautnya terhambat cu­aca bu­ruk. Ternyata kisah bos yang ”bo­doh” ini me­narik perhatian masyarakat lu­as. Bah­kan setelah terbit jilid keduanya, mun­­cul ju­ga My Stupid Boss edisi Fans’ Stories, yang berisi curahan hati para pem­­baca me­ngenai para bos mereka sendiri.

Kesuksesan serial My Stupid Boss yang telah berulangkali dicetak ulang ini me­­nguak sebuah realitas bahwa di du­nia—atau minimal di Indonesia—banyak orang men­jalankan kepemimpinannya dengan ku­rang bijak. Lalu, seperti apa sebaiknya sikap kita dalam men­ja­lan­kan tugas kepemimpinan?

Per­tama, kita harus ingat bahwa Tuhan tak menuntut bahwa ha­­nya manusia ”sempurna” yang dapat mengisi posisi pe­mimpin. Bah­­kan, Harun pernah mengizinkan bangsa Israel me­nyem­bah lem­bu emas dan bersekongkol dengan Miryam untuk melawan Musa (Bi­­langan 12). Namun, terpujilah Tuhan, ia masih di­per­ca­ya dan di­be­ri kesempatan untuk memimpin. Kedua, sebagaimana tong­kat yang kering menjadi hidup, kepemimpinan kita harus meng­ha­sil­kan bu­ah bagi sesama, serta mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tongkat Harun yang bertunas itu disimpan ber­sa­­ma Tabut Perjanjian. Setinggi apa pun posisi kita, seperti Harun yang diangkat menjadi imam besar Israel, ingatlah bahwa semuanya ber­asal dari Tuhan. Maka, kita harus mempertanggungjawabkannya kembali kepada-Nya —OLV

KEPEMIMPINAN SEJATI ADALAH KEPEMIMPINAN
YANG BERBUAH DAN BERTANGGUNG JAWAB KEPADA TUHAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *